Kita sudah tidak asing lagi dengan surat Al-alaq ayat 1-5. Sebagai seorang muslim kita sering melupakan ayat tersebut dan sekaligus merupakan wahyu pertama yang diterima oleh junjungan kita Rasulullah saw. Iqra’ mempunyai arti “bacalah”, yakni kita diperintahkan untuk senantiasa membaca apa-apa yang kita tidak ketahui, yakni berupa ilmu pengetahuan. Kita sering lalai bahkan mungkin tidak memperdulikan betapa penting dari sebuah aktivitas yang disebut dengan membaca, seharusnya di era yang serba canggih seperti ini, orang lebih mudah untuk membaca sebuah ilmu pengetahuan dari berbagai sumber yang ada. bukan menjadikan kita malah cenderung pada rasa malas. Sehingga aktivitas membaca sebuah ilmu pengetahuan sudah seharusnya menjadi suatu yang bernilai positif dan menghasilkan faedah yang luar biasa bagi kita. bukan sebalik nya membuat hal tersebut justru menjadi sesuatu yang jarang kita lihat. banyak yang menyalah gunakan kecanggihan teknologi menjadi suatu yang negatif bahkan menjerumuskan pada hal yang banyak membuang waktu sia-sia dan lebih parah nya lagi menghasilkan sesuatu yang bersifat negatif.
![]() |
| Surat Al-Alaq ayat 1-5 |
Generasi-generasi kita dengan sendirinya melupakan hikmah dari membaca sebuah buku atau sumber-sumber lain yang mempunyai nilai ilmu pengetahuan, mereka terbuai dengan dengan tontonan-tontonan yang membuat mereka jauh menghayal dan berfikir secara fiktif bukan fakta. Ini adalah bentuk dari sebuah kemerosotan semangat belajar dan menurun nya rasa ingin tahu akan sebuah ilmu.
![]() |
| Membaca membuka jendela dunia |
Kita lihat sekarang di sekolah-sekolah, ruang perpustakaan seakan hanya sebuah fasilitas belaka. Perpustakaan sepi, sunyi, bahkan seperti ruang mati tak berpenghuni. Ironis memang, tapi inilah yang terjadi, budaya membaca sudah tidak ada. Perlu dicatat oleh kita semua bahwa budaya membaca sangat berpengaruh terhadap kemajuan suatu bangsa. Semakin tinggi minat membaca suatu bangsa, maka semakin maju pula bangsa itu. Kenyataan ini tentu dapat kita lihat dalam masa-masa kejayaan Islam, yang mana pada masa itu, banyak sekali perpustakaan. di mana-mana diadakan perpustakaan sebagai tempat membaca. Seperti yang penulis kutip dari http://tuntunanislam.com/membacalah-seperti-diperintahkan-kepada-nabi-2/ Dalam buku berjudul Destiny Disrupted: A History of the World through Islamic Eyes, dan kemudian diterjemahkan menjadi “Dari Puncak Baghdad: Sejarah Dunia Versi Islam”, Tamim Anshary menyebutkan bahwa pada zaman kekuasaan Islam di Andalusia, perpustakaan-perpustakaan terbesar yang banyak tersebar di Cordova konon berisi lebih dari 500.000 jilid buku (Tamim Anshary, 2012: 202). Dengan begitu banyaknya didirikan perpustakaan, wajar jika kemudian minat baca umat Islam saat itu jauh lebih tinggi dibandingkan umat-umat yang lainnya. Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila negeri-negeri Islam pada saat itu menjadi pusat tamaddun dunia.
Bukankah dalam Al-Quran Allah telah berfirman yang artinya : "Allah akan meninggikan (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat" (Q.s. al-Mujadalah : 11)
Untuk itu mari kita bangkitkan semangat membaca pada diri kita dan juga pada generasi-generasi penerus kita, agar bangsa ini menjadi bangsa yang Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghafur dan generasi-generasi kita nanti bisa mengembalikkan kejayaan Islam di bidang ilmu pengetahuan serta mengembalikan Islam pada masa kejayaan nya, Amiin Allahumma Amiin. Barakallah!













